Alor, Si Pulau Moko

Menyebut nama Alor, kerap kali akan langsung dihubungkan dengan kegiatan menyelam. Alam memang seakan tampil jorjoran memamerkan kecantikannya di pulau kecil di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) ini.

Namanya telah lama menggaung di kalangan pecinta olahraga selam, berkat keindahan panorama bawah laut dan biota lautnya yang sangat beragam. Jumlah wisatawan pun terus meningkat, baik local maupun dari mancanegara. Terlebih sejak diselenggarakannya Sail Indonesia, yang membawa kapal-kapal pesiar dari Darwin melewati daerah NTT dan sekitarnya.

Tahun ini Sail Indonesia pun kembali diselenggarakan dengan membawa sekitar 200 peserta dari berbagai Negara. Berawal dari Darwin, Australia Utara, berlayar menuju enam lokasi di NTT, yakni Alor, Nagekoe, Maumere, Labuanbajo, Kupang, dan Rote.

Namun bagi mereka pecinta budaya, juga tak kalah akan dipuaskan. Siapa yang menyangka jika penduduk kecil ini terdiri dari puluhan etnik dengan belasan bahasa. Jika ingin menyelami dan bersinggungan langsung dengan budaya tradisional masyarakatnya, bias menuju perkampungan tradisional Takpala, Mombang, atau desa Bampalola. Dimana tarian, nyanyian, dan rumah adat tradisionalnya yang unik bias langsung diamati.

Tak hanya itu, pulau kecil ini pun ternyata menyimpan ribuan jenis moko atau nekara, Dongson, Vietnam. Usia moko itu bias ditelusuri 300 tahun sebelum masehi sampai sekitar tahun 200. Gara-gara ditemukannya beragam jenis moko ini, Alor pun kerap dijuluki Pulau Serinu Moko.

Benda ini memiliki arti penting dalam hidup kebudayaan masyarakat Alor dan memiliki nilai social, ekonomis, sekaligus mistis. Moko juga menjadi mas kawin yang harus diserahkan pada mempelai perempuan, yang sekaligus menentukan status social dan martabat suku.

Jika ingin meniliknya lebih jauh, bias melangkahkan kaki ke Museum Seribu Moko di Batutenata. Ada beragam ukuran, desain, motif, dan jenis moko yang tersimpan di dalamnya. Belum diketahui secara pasti bagaimana moko bias ditemui di Alor dan hanya ada di pulau itu. Namun yang pasti, segala yang ada di Alor menjadi satu nilai lebih yang membuatnya terus dicari. Setidaknya bagi mereka yang selama ini hanya mendengar namanya, makin membulatkan tekad untuk segera bertandang.

 

Sumber: Klasika, Kompas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: